Minggu, 18 Maret 2012
Sabtu, 17 Maret 2012
Rabu, 14 Maret 2012
INSPIRASI KU......
Bissmillaah
ASMA NADIA
pencipta lagu. Salah satu lagu ciptaannya adalah, ‘’Kau Bukan Dirimu'’, yang dinyanyikan Dewi Yull. Kegiatan membaca juga menjadi bagian lain dari masa kecil Asma, sehingga hal itu membuat ia suka menulis.
Sewaktu Asma duduk di kelas satu sekolah dasar, dia iseng-iseng membaca buku tentang kehidupan akhirat. Dia membaca sebuah buku yang bercerita tentang orang yang masuk neraka. Ia di bakar dengan api yang sangat panas atau ditusuk dengan pedang tajam. Setelah membacanya, (Rani) panggilan bocah perempuan itu, merasa takut, hingga pada suatu malam, Rani bermimpi seram. Gadis kecil itu kaget, kemudian terbangun dan segera diambilnya bantal untuk menutup wajahnya. Tanpa sengaja, gerakan cepat itu menyebabkan bagian belakang kepala Rani terbentur besi kasur. Dia pun gegar otak dan harus mengalami perawatan. Tak hanya gegar otak, tapi semasa kecilnya Rani juga pernah mengalami sakit jantung, paru-paru dan bahkan ada tumor di lehernya.
Keluarga Asma waktu itu tergolong keluarga miskin yang tinggal di pinggiran rel kereta api. Namun, meski begitu kedua orang tuanya tetap berusaha untuk membelikan buku untuk anak-anaknya karena mereka yakin, ada kebaikan yang akan diperoleh dari banyak membaca. Ibunya selalu membelikan buku sewaktu Asma harus menunggu pemeriksaan di RSCM, meski dirinya (ibu Asma) seringkali tidak makan siang karena uangnya digunakan untuk membeli buku tersebut. Hal itu dilakukannya demi melihat Asma merasa nyaman dan bisa terus membaca. Jenis bukunya pun macam-macam, mulai dari komik, biografi, asal-usul, Agatha Christie, hingga lima sekawan.
Asma pernah menulis tulisan berat, tetapi tidak bagus. Akhirnya, ia beralih ke cerita fiksi dan merasa dunianya ada di sana. Cerita bertema dunia remaja pun menjadi garapannya. Bukan karena belum banyak penulis yang memfokuskan diri pada dunia itu yang membuat Asma bergelut di dunia remaja. Namun, karena kecintaan dan rasa senang yang besar untuk menggali kisah-kisah remaja. Sebetulnya, kebiasaan menulis cerpen itu sendiri sudah dilakukannya sejak kelas satu SMP. ‘’Waktu itu aku menulis cerpen 11 halaman,'’ Asma menjelaskan. Seorang saudaranya yang aktif di teater berkomentar bahwa cerpen itu klise, pasaran. Kritik itu membuat Asma bertekad untuk menulis lebih baik lagi. Baru kelas tiga SMP, sewaktu dia mulai mengenakan jilbab, dia merasa perlu memiliki misi dalam menulis cerita. Misinya yaitu ingin menceritakan bahwa Islam itu universal.
Pada awalnya Asma mengaku tidak merasa percaya diri atas karya yang dibuatnya. ‘’Kakak saya bilang, terus masuki secara serius. Kalau sudah menang dua kali, gak usah mikir seperti itu,'’. Pada sisi lain, Helvy mengingatkan bahwa pengarang perempuan itu jumlahnya masih sedikit. Apalagi, mereka yang peduli pada dunia remaja dan mempunyai misi. Hal itu mendorong Asma untuk terus maju dan berkarya di tengah ketidakpercayaan dirinya. Karena keinginannya yang kuat untuk tetap menulis dan menulis ini, akhirnya ia mendapat penghargaan dan hadiah sastra. Sebuah cerpennya yang berjudul Imut dan Koran Gondrong pernah memenangi juara I Lomba menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI) tingkat nasional yang diadakan Majalah Anninda 1994 dan 1995. Bukunya Rembulan di Mata Ibu meraih Adikarya IKAPI untuk kategori Buku Remaja Terbaik I tahun 2001.
Selain hadiah sastra pernah diperolehnya, Asma juga pernah mendapat penghargaan dari Adikarya IKAPI. Penghargaan itu diraihnya tahun 2002. berikutnya, tahun 2003, Asma Nadia menjadi pengarang Fiksi remaja terbaik dari Mizan Award. Dua cerpennya masuk dalam antologi kumpulan cerpen terbaik Majalah Anninda: Merajut Cahaya (Pustaka Anninda). Asma Nadia juga pernah mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara XI di Brunei Darusalam, workshop kepenulisan novel yang diadakan Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA).
Dari hasil workshop kepenulisan Mastera, Asma Nadia menghasilkan novel yang berjudul Derai Sunyi. Sebagai anggota ICMI, Asma Nadia juga pernah diundang untuk mengisi acara worlshop kepenulisan yang diadakan ICMI orsat Cairo.
Asma mengaku banyak belajar dari kakaknya yang terlebih dahulu menulis.
‘’Helvy-lah yang mengganti namaku jadi Asma Nadia, yang artinya nama yang menyeru,'’ kata Asma. Waktu itu, Asma ia menyerahkan cerpen kepada kakaknya untuk dibaca. Ketika melihat bahwa ia menggunakan nama Asmarani Rosalba, Helvy seketika menggantinya dengan Asma Nadia. Katanya, nama aslinya susah diingat. Ketika ditanya tentang hubungannya dengan Helvy, Asma mengaku tidak merasa bersaing, meski sama-sama penulis. Yang ada, katanya, malah saling mendukung. Apalagi, sasaran mereka berbeda. Helvy menggarap pasar orang-orang dewasa dan serius. Sementara itu, ia peduli pada dunia remaja.

Ibu dari dua orang anak: Eva Maria Putri Salsabila dan Adam Putra Firdaus ini pernah menjadi Ketua Yayasan Lingkar Pena, manager Lingkar Pena Publishing House, dan Ketua I Forum Lingkar Pena. Sebuah forum kepenulisan bagi penulis-penulis muda yang anggotanya hampir ada di 25 provinsi di Indonesia. Asma merasa perlu untuk membagikan pengalamannya pada banyak orang lewat berbagai proyek yang digagasnya. Ia selalu berusaha mengajak –khususnya perempuan Indonesia– untuk menulis dan menggerakkan perempuan Indonesia menulis di milis asmanadia. Dan mempermudah bagi mereka untuk menuliskan pengalaman mereka. Ternyata dari situ mereka bisa berkembang menjadi seorang penulis. Milis itu sekarang anggotanya lebih dari 2000 orang. Dari tulisan-tulisan itu, kami buat beberapa antologi. Dari satu buku kumpulan terdiri dari 13 atau 15 pengarang yang terambil dari milis.
Setelah tidak lagi di Lingkar Pena, Asma dan suaminya mendirikan sebuah penerbit ”AsmaNadia Publishing House”. Namun ternyata ada kendala pada distribusinya. Akan tetapi sekarang merasa lebih enak, karena walaupun kecil, mereka punya penerbitan sendiri sehingga bisa menerbitkan buku sendiri. Asma menulis hal apa saja yang harus disuarakan ke pembaca, karena menurut Asma ini dibutuhkan oleh pembaca. Seperti buku Jangan Jadi Muslimah Nyebelin, rasanya memang perlu untuk Muslimah yang berkerudung memperhatikan kebersihan diri dan sebagainya. Tujuan menulisnya bukan untuk menjadi pemenang perlombaan ini dan itu. Namun jika tulisan tersebut diapresiasi, itu adalah hal yang lain.
Asma juga mempunyai mimpi-mimpi besar selain dalam hal tulis-menulis. Salah satu mimpinya yaitu ingin mengelilingi dunia. Mimpi itu berawal dari sebuah pintu kulkas yang bertaburan magnit suvenir dari berbagai negara. Asma suka sekali dan betah berlama-lama di depan kulkas hanya untuk melihat suvenir-suvenir dengan gambar-gambar khas dari suatu negara itu. Namun, mimpinya sempat meredup ketika dia tidak bisa menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Teknologi Pertanian, IPB karena harus menjalani istirahat akibat sakit yang dideritanya sejak kecil.
Setelah tidak lagi kuliah, Asma mengambil sekolah guru TK dan belajar bahasa inggris dan bahasa arab. Bukan khusus untuk persiapan bekerja ke luar negeri, melainkan agar bisa lebih paham waktu membaca Al Qur’an. Mimpi yang nyaris terlupakan itu muncul kembali ketika suatu hari suami Asma membawa pulang sebuah kulkas satu pintu. Bayangan souvenir-souvenir magnit di beberapa pintu kulkas yang ia lihat waktu kecil, kembali menari-nari di kepalanya.
Dengan bermodalkan hobinya sedari kecil yang suka sekali dalam bidang menulis, Asma bisa mengantarkan mimpinya menjadi kenyataan. Allah memperjalankan Asma awalnya ke Brunei, lalu ke Thailand, Singapore, Malaysia, Korea, Mesir, Hongkong, Beijing, Macau, Itali, Perancis dan bahkan dia sampai di markas klub besar, Barcelona. Negara dan kota-kota yang awalnya hanya ia lihat di peta, di koran, majalah, atau televisi, bisa ia singgahi hampir semuanya gratis. Meski belum mengelilingi dunia sepenuhnya, tapi ia tetap optimis suatu kali pasti bisa mewujudkannya.
”Backpacker tak cuma untuk kalangan lelaki saja, tetapi perempuan muslim yang berjilbab pun bisa melakukannya”
Mengapa ”Asma”?
Kak Asma adalah sosok yang hebat. Meski menderita penyakit yang cukup serius, dia tetap semangat, rajin berusaha dan tak gampang menyerah. Dia punya mimpi yang begitu besar, yaitu ingin mengelilingi dunia yang rasanya tidak akan mungkin bagi seorang Asma yang berasal dari keluarga sederhana dan dapat di katakan miskin itu. Mimpi itu semakin terasa tak mungkin ketika ia tidak bisa melanjutkan kuliahnya. Namun, ketika suaminya membeli sebuah kulkas, dia teringat kembali akan mimpi itu meski dia tidak begitu yakin bisa meraihnya atau tidak.
Berawal dari sebuah komputer yang dibeli oleh suaminya, Asma kembali menekuni hobinya yaitu menulis. Karena kepiawaiannya dalam bidang tersebut, Asma menjadi seorang penulis besar di bumi pertiwi ini. Dan karena menulis itu juga, dia bisa merealisasikan mimpinya selama ini untuk mengelilingi dunia. Dia bisa melihat megahnya Eiffel, mengunjungi markas klub besar spanyol, Barcelona, dan melihat dari dekat bangunan-bangunan lain yang ada di negara yang sudah ia kunjungi. Semua itu hanya akan menjadi mimpi penghias tidur belaka jika ia tidak berusaha dengan keras untuk mewujudkannya melalui menulis. Menakjubkan!!
Dari kisah di atas, dapat disimpulkan bahwa semua hal-hal besar yang ada di dunia ini berawal dari sebuah mimpi-mimpi kecil yang senantiasa kita pupuk dengan melakukan hal-hal yang berkaitan atau yang mendukung tercapainya mimpi itu. Dengan cara melakukannya dengan terus-menerus, maka hal itu akan menjadi sebuah kebiasaan yang melekat dalam jiwa kita. Dan dengan kebiasaan itu, kita akan semakin dekat dengan mimpi kita dan akan lebih mudah untuk bisa mencapainya.
Kawan, mimpi itu gratis. Kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk memilikinya. Jangan takut jika orang lain menganggap diri kita sudah gila karena memimpikan hal yang tak mungkin. Namun, jadikanlah ejekan itu sebagai pemacu semangat kita untuk mencapai mimpi itu. Buktikan pada mereka semua bahwa kita pasti bisa mewujudkannya. Jangan menyerah meski banyak rintangan yang menghadang. Tetap tersenyum, agar semakin mudah karena kesedihan pun ternyata hanya sementara. Sampai jumpa di 10 tahun yang akan datang dengan mimpi yang sudah di tangan. Amin
Pengalamanku
Saat ini saya masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu PTN di Jogja. Saya masuk di jurusan keguruan yang menjadi pilihan kedua saya di PTN ini. Pilihan pertama saya dulu yaitu di jurusan psikologi karena saya suka mengamati dan berusaha untuk selalu memahami berbagai karakter dan perilaku setiap orang yang beragam dan sangat menarik untuk dipelajari. Setelah menjalani selama 1.5 semester di jurusan ini, saya merasa kurang cocok karena pelajaran yang diajarkan berlainan dengan minat saya. Jujur saja, dulu saya terpaksa untuk masuk di jurusan ini karena orang tua menyuruh saya untuk masuk pondok pesantren jika saya tidak kuliah.
Sekitar satu bulan yang lalu, ayah saya mengabarkan kalau beliau tidak bekerja lagi karena banyaknya hutang yang harus beliau tanggung akibat sepinya pelanggan yang memanfaatkan barang dagangan ayah. Adik saya yang masih duduk di kelas 2 SMK mengangis waktu mendengar kabar tersebut. Saya pun sebenarnya juga sedih, namun mau bagaimana lagi? Itulah keputusan yang ayah pilih. Beliau bilang pada saya, ”Mulai saat ini, mungkin ayah tidak bisa lagi membiayai kuliahmu. Kalau kamu masih pengen kuliah, kamu harus mencari biaya sendiri karena ayah masih punya hutang banyak yang harus ayah lunasi. Selian itu ayah juga masih harus membiayai pendidikan adik-adikmu yang lain. Maafkan ayah”. Dan sekarang ini, ayahku mengelola suatu usaha baru bersama temannya di Samarinda.
Begitulah kawan, mulai saat ini saya harus menghidupi diri sendiri. Namun saya sangat menikmatinya. Kak Asma yang sering sakit-sakitan aja bisa, kenapa saya tidak? Apalagi salah satu mimpi saya ke depan sama seperti kak Asma, yaitu ingin mengelilingi dunia, termasuk mengunjungi markas klub Barcelona. Entah dengan cara apa saya mau mewujudkannya, akan tetapi saya percaya, saya pasti bisa meraihnya. Oleh karena itu, mulai saat ini juga, saya tidak boleh malas-malasan dan harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bisa merealisasikan mimpi tersebut. ”Hidup itu sederhana, berani bermimpi lalu mewujudkannya. Hidup itu sederhana, menggerakkan arang jadi intan permata.”
Hidup ini indah, jangan dibuat susah. Nikmati semua hal yang ada, dan yakinlah pasti ada suatu hikmah yang tersimpan didalamnya. Aku Bisa
ASMA NADIA
pencipta lagu. Salah satu lagu ciptaannya adalah, ‘’Kau Bukan Dirimu'’, yang dinyanyikan Dewi Yull. Kegiatan membaca juga menjadi bagian lain dari masa kecil Asma, sehingga hal itu membuat ia suka menulis.
Sewaktu Asma duduk di kelas satu sekolah dasar, dia iseng-iseng membaca buku tentang kehidupan akhirat. Dia membaca sebuah buku yang bercerita tentang orang yang masuk neraka. Ia di bakar dengan api yang sangat panas atau ditusuk dengan pedang tajam. Setelah membacanya, (Rani) panggilan bocah perempuan itu, merasa takut, hingga pada suatu malam, Rani bermimpi seram. Gadis kecil itu kaget, kemudian terbangun dan segera diambilnya bantal untuk menutup wajahnya. Tanpa sengaja, gerakan cepat itu menyebabkan bagian belakang kepala Rani terbentur besi kasur. Dia pun gegar otak dan harus mengalami perawatan. Tak hanya gegar otak, tapi semasa kecilnya Rani juga pernah mengalami sakit jantung, paru-paru dan bahkan ada tumor di lehernya.
Keluarga Asma waktu itu tergolong keluarga miskin yang tinggal di pinggiran rel kereta api. Namun, meski begitu kedua orang tuanya tetap berusaha untuk membelikan buku untuk anak-anaknya karena mereka yakin, ada kebaikan yang akan diperoleh dari banyak membaca. Ibunya selalu membelikan buku sewaktu Asma harus menunggu pemeriksaan di RSCM, meski dirinya (ibu Asma) seringkali tidak makan siang karena uangnya digunakan untuk membeli buku tersebut. Hal itu dilakukannya demi melihat Asma merasa nyaman dan bisa terus membaca. Jenis bukunya pun macam-macam, mulai dari komik, biografi, asal-usul, Agatha Christie, hingga lima sekawan.
Asma pernah menulis tulisan berat, tetapi tidak bagus. Akhirnya, ia beralih ke cerita fiksi dan merasa dunianya ada di sana. Cerita bertema dunia remaja pun menjadi garapannya. Bukan karena belum banyak penulis yang memfokuskan diri pada dunia itu yang membuat Asma bergelut di dunia remaja. Namun, karena kecintaan dan rasa senang yang besar untuk menggali kisah-kisah remaja. Sebetulnya, kebiasaan menulis cerpen itu sendiri sudah dilakukannya sejak kelas satu SMP. ‘’Waktu itu aku menulis cerpen 11 halaman,'’ Asma menjelaskan. Seorang saudaranya yang aktif di teater berkomentar bahwa cerpen itu klise, pasaran. Kritik itu membuat Asma bertekad untuk menulis lebih baik lagi. Baru kelas tiga SMP, sewaktu dia mulai mengenakan jilbab, dia merasa perlu memiliki misi dalam menulis cerita. Misinya yaitu ingin menceritakan bahwa Islam itu universal.
Pada awalnya Asma mengaku tidak merasa percaya diri atas karya yang dibuatnya. ‘’Kakak saya bilang, terus masuki secara serius. Kalau sudah menang dua kali, gak usah mikir seperti itu,'’. Pada sisi lain, Helvy mengingatkan bahwa pengarang perempuan itu jumlahnya masih sedikit. Apalagi, mereka yang peduli pada dunia remaja dan mempunyai misi. Hal itu mendorong Asma untuk terus maju dan berkarya di tengah ketidakpercayaan dirinya. Karena keinginannya yang kuat untuk tetap menulis dan menulis ini, akhirnya ia mendapat penghargaan dan hadiah sastra. Sebuah cerpennya yang berjudul Imut dan Koran Gondrong pernah memenangi juara I Lomba menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI) tingkat nasional yang diadakan Majalah Anninda 1994 dan 1995. Bukunya Rembulan di Mata Ibu meraih Adikarya IKAPI untuk kategori Buku Remaja Terbaik I tahun 2001.
Selain hadiah sastra pernah diperolehnya, Asma juga pernah mendapat penghargaan dari Adikarya IKAPI. Penghargaan itu diraihnya tahun 2002. berikutnya, tahun 2003, Asma Nadia menjadi pengarang Fiksi remaja terbaik dari Mizan Award. Dua cerpennya masuk dalam antologi kumpulan cerpen terbaik Majalah Anninda: Merajut Cahaya (Pustaka Anninda). Asma Nadia juga pernah mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara XI di Brunei Darusalam, workshop kepenulisan novel yang diadakan Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA).
Dari hasil workshop kepenulisan Mastera, Asma Nadia menghasilkan novel yang berjudul Derai Sunyi. Sebagai anggota ICMI, Asma Nadia juga pernah diundang untuk mengisi acara worlshop kepenulisan yang diadakan ICMI orsat Cairo.
Asma mengaku banyak belajar dari kakaknya yang terlebih dahulu menulis.
‘’Helvy-lah yang mengganti namaku jadi Asma Nadia, yang artinya nama yang menyeru,'’ kata Asma. Waktu itu, Asma ia menyerahkan cerpen kepada kakaknya untuk dibaca. Ketika melihat bahwa ia menggunakan nama Asmarani Rosalba, Helvy seketika menggantinya dengan Asma Nadia. Katanya, nama aslinya susah diingat. Ketika ditanya tentang hubungannya dengan Helvy, Asma mengaku tidak merasa bersaing, meski sama-sama penulis. Yang ada, katanya, malah saling mendukung. Apalagi, sasaran mereka berbeda. Helvy menggarap pasar orang-orang dewasa dan serius. Sementara itu, ia peduli pada dunia remaja.

Ibu dari dua orang anak: Eva Maria Putri Salsabila dan Adam Putra Firdaus ini pernah menjadi Ketua Yayasan Lingkar Pena, manager Lingkar Pena Publishing House, dan Ketua I Forum Lingkar Pena. Sebuah forum kepenulisan bagi penulis-penulis muda yang anggotanya hampir ada di 25 provinsi di Indonesia. Asma merasa perlu untuk membagikan pengalamannya pada banyak orang lewat berbagai proyek yang digagasnya. Ia selalu berusaha mengajak –khususnya perempuan Indonesia– untuk menulis dan menggerakkan perempuan Indonesia menulis di milis asmanadia. Dan mempermudah bagi mereka untuk menuliskan pengalaman mereka. Ternyata dari situ mereka bisa berkembang menjadi seorang penulis. Milis itu sekarang anggotanya lebih dari 2000 orang. Dari tulisan-tulisan itu, kami buat beberapa antologi. Dari satu buku kumpulan terdiri dari 13 atau 15 pengarang yang terambil dari milis.
Setelah tidak lagi di Lingkar Pena, Asma dan suaminya mendirikan sebuah penerbit ”AsmaNadia Publishing House”. Namun ternyata ada kendala pada distribusinya. Akan tetapi sekarang merasa lebih enak, karena walaupun kecil, mereka punya penerbitan sendiri sehingga bisa menerbitkan buku sendiri. Asma menulis hal apa saja yang harus disuarakan ke pembaca, karena menurut Asma ini dibutuhkan oleh pembaca. Seperti buku Jangan Jadi Muslimah Nyebelin, rasanya memang perlu untuk Muslimah yang berkerudung memperhatikan kebersihan diri dan sebagainya. Tujuan menulisnya bukan untuk menjadi pemenang perlombaan ini dan itu. Namun jika tulisan tersebut diapresiasi, itu adalah hal yang lain.
Asma juga mempunyai mimpi-mimpi besar selain dalam hal tulis-menulis. Salah satu mimpinya yaitu ingin mengelilingi dunia. Mimpi itu berawal dari sebuah pintu kulkas yang bertaburan magnit suvenir dari berbagai negara. Asma suka sekali dan betah berlama-lama di depan kulkas hanya untuk melihat suvenir-suvenir dengan gambar-gambar khas dari suatu negara itu. Namun, mimpinya sempat meredup ketika dia tidak bisa menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Teknologi Pertanian, IPB karena harus menjalani istirahat akibat sakit yang dideritanya sejak kecil.
Setelah tidak lagi kuliah, Asma mengambil sekolah guru TK dan belajar bahasa inggris dan bahasa arab. Bukan khusus untuk persiapan bekerja ke luar negeri, melainkan agar bisa lebih paham waktu membaca Al Qur’an. Mimpi yang nyaris terlupakan itu muncul kembali ketika suatu hari suami Asma membawa pulang sebuah kulkas satu pintu. Bayangan souvenir-souvenir magnit di beberapa pintu kulkas yang ia lihat waktu kecil, kembali menari-nari di kepalanya.
Dengan bermodalkan hobinya sedari kecil yang suka sekali dalam bidang menulis, Asma bisa mengantarkan mimpinya menjadi kenyataan. Allah memperjalankan Asma awalnya ke Brunei, lalu ke Thailand, Singapore, Malaysia, Korea, Mesir, Hongkong, Beijing, Macau, Itali, Perancis dan bahkan dia sampai di markas klub besar, Barcelona. Negara dan kota-kota yang awalnya hanya ia lihat di peta, di koran, majalah, atau televisi, bisa ia singgahi hampir semuanya gratis. Meski belum mengelilingi dunia sepenuhnya, tapi ia tetap optimis suatu kali pasti bisa mewujudkannya.
”Backpacker tak cuma untuk kalangan lelaki saja, tetapi perempuan muslim yang berjilbab pun bisa melakukannya”
Mengapa ”Asma”?Kak Asma adalah sosok yang hebat. Meski menderita penyakit yang cukup serius, dia tetap semangat, rajin berusaha dan tak gampang menyerah. Dia punya mimpi yang begitu besar, yaitu ingin mengelilingi dunia yang rasanya tidak akan mungkin bagi seorang Asma yang berasal dari keluarga sederhana dan dapat di katakan miskin itu. Mimpi itu semakin terasa tak mungkin ketika ia tidak bisa melanjutkan kuliahnya. Namun, ketika suaminya membeli sebuah kulkas, dia teringat kembali akan mimpi itu meski dia tidak begitu yakin bisa meraihnya atau tidak.
Berawal dari sebuah komputer yang dibeli oleh suaminya, Asma kembali menekuni hobinya yaitu menulis. Karena kepiawaiannya dalam bidang tersebut, Asma menjadi seorang penulis besar di bumi pertiwi ini. Dan karena menulis itu juga, dia bisa merealisasikan mimpinya selama ini untuk mengelilingi dunia. Dia bisa melihat megahnya Eiffel, mengunjungi markas klub besar spanyol, Barcelona, dan melihat dari dekat bangunan-bangunan lain yang ada di negara yang sudah ia kunjungi. Semua itu hanya akan menjadi mimpi penghias tidur belaka jika ia tidak berusaha dengan keras untuk mewujudkannya melalui menulis. Menakjubkan!!
Dari kisah di atas, dapat disimpulkan bahwa semua hal-hal besar yang ada di dunia ini berawal dari sebuah mimpi-mimpi kecil yang senantiasa kita pupuk dengan melakukan hal-hal yang berkaitan atau yang mendukung tercapainya mimpi itu. Dengan cara melakukannya dengan terus-menerus, maka hal itu akan menjadi sebuah kebiasaan yang melekat dalam jiwa kita. Dan dengan kebiasaan itu, kita akan semakin dekat dengan mimpi kita dan akan lebih mudah untuk bisa mencapainya.
Kawan, mimpi itu gratis. Kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk memilikinya. Jangan takut jika orang lain menganggap diri kita sudah gila karena memimpikan hal yang tak mungkin. Namun, jadikanlah ejekan itu sebagai pemacu semangat kita untuk mencapai mimpi itu. Buktikan pada mereka semua bahwa kita pasti bisa mewujudkannya. Jangan menyerah meski banyak rintangan yang menghadang. Tetap tersenyum, agar semakin mudah karena kesedihan pun ternyata hanya sementara. Sampai jumpa di 10 tahun yang akan datang dengan mimpi yang sudah di tangan. Amin
Pengalamanku
Saat ini saya masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu PTN di Jogja. Saya masuk di jurusan keguruan yang menjadi pilihan kedua saya di PTN ini. Pilihan pertama saya dulu yaitu di jurusan psikologi karena saya suka mengamati dan berusaha untuk selalu memahami berbagai karakter dan perilaku setiap orang yang beragam dan sangat menarik untuk dipelajari. Setelah menjalani selama 1.5 semester di jurusan ini, saya merasa kurang cocok karena pelajaran yang diajarkan berlainan dengan minat saya. Jujur saja, dulu saya terpaksa untuk masuk di jurusan ini karena orang tua menyuruh saya untuk masuk pondok pesantren jika saya tidak kuliah.
Sekitar satu bulan yang lalu, ayah saya mengabarkan kalau beliau tidak bekerja lagi karena banyaknya hutang yang harus beliau tanggung akibat sepinya pelanggan yang memanfaatkan barang dagangan ayah. Adik saya yang masih duduk di kelas 2 SMK mengangis waktu mendengar kabar tersebut. Saya pun sebenarnya juga sedih, namun mau bagaimana lagi? Itulah keputusan yang ayah pilih. Beliau bilang pada saya, ”Mulai saat ini, mungkin ayah tidak bisa lagi membiayai kuliahmu. Kalau kamu masih pengen kuliah, kamu harus mencari biaya sendiri karena ayah masih punya hutang banyak yang harus ayah lunasi. Selian itu ayah juga masih harus membiayai pendidikan adik-adikmu yang lain. Maafkan ayah”. Dan sekarang ini, ayahku mengelola suatu usaha baru bersama temannya di Samarinda.
Begitulah kawan, mulai saat ini saya harus menghidupi diri sendiri. Namun saya sangat menikmatinya. Kak Asma yang sering sakit-sakitan aja bisa, kenapa saya tidak? Apalagi salah satu mimpi saya ke depan sama seperti kak Asma, yaitu ingin mengelilingi dunia, termasuk mengunjungi markas klub Barcelona. Entah dengan cara apa saya mau mewujudkannya, akan tetapi saya percaya, saya pasti bisa meraihnya. Oleh karena itu, mulai saat ini juga, saya tidak boleh malas-malasan dan harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bisa merealisasikan mimpi tersebut. ”Hidup itu sederhana, berani bermimpi lalu mewujudkannya. Hidup itu sederhana, menggerakkan arang jadi intan permata.”
Hidup ini indah, jangan dibuat susah. Nikmati semua hal yang ada, dan yakinlah pasti ada suatu hikmah yang tersimpan didalamnya. Aku Bisa
Langganan:
Postingan (Atom)
